Toleransi terhadap Keragaman Penyakit.
By Judgingthenorm
Toleransi merupakan tindakan yang diperlukan dalam lingkungan sosial. Setiap insan diberikan keunikan masing-masing sebagai identitas diri mereka semenjak dilahirkan ke dunia. Dalam satu keluarga saja misalnya, pemikiran sang ayah, ibu , juga anak-anaknya bisa berbeda. Apalagi dalam lingkup masyarakat yang lebih luas seperti negara,
Meskipun demikian, beberapa perbedaan dapat memicu timbulnya perpecahan. Ego manusia agar dianggap sebagai superior di antara manusia lainnya menyebabkan penurunan moral sehingga mencari kekurangan-kekurangan bagi orang lain. Contohnya ialah bullying, karena beberapa faktor seperti perbedaaan strata sosial, kekayaan, pendidikan, body shaming, dan sebagainya.
Dewasa ini sudah banyak komunitas yang menaungi kaum “inferior” terutama dalam hal body shaming dengan slogan love self. Pun dengan beberapa komunitas para penyintas kanker dan HIV/AIDS agar terhindar dari pengucilan masyarakat. Kebanyakan dari mereka mendapatkan simpati dan empati masyarakat karena memiliki penyakit fisik. Bagaimana dengan penyakit psikis? Yang selalu dianggap kurang bersukur, tukang keluh, dan kami memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama sebagaimana orang “normal.”
Padahal sakit yang kami rasa itu nyata, bukan ilusi. Fisik kami juga sakit. Pikiran kami apalagi.
Berikut beberapa catatan yang sempat saya abadikan ketika didiagnosa menderita depresi dan gangguan kecemasan.



Saya bahkan butuh alasan untuk bangun pagi dan tetap bertahan hidup. Alhamdulillah teman-teman dan keluarga saya sebagian memberikan pemakluman, namun pemakluman tersebut tidak saya peroleh dari semua orang. Masih banyak orang di luar sana yang masih minim edukasi mengenai mentall illness, baik mereka yang terjangkit maupun lingkungannya sehingga biasanya mengalami keterlambatan dalam penanganan dan tidak bisa kembali beraktifitas normal seperti sediakala.
Ada beberapa tulisan juga yang saya rasakan ketika saya kehilangan adidaya saya dalam menggerakkan tubuh saya sendiri atau mengatur otak saya sendiri.



Karena ingin mencari apa yang terjadi pada saya di samping keterangan dari psikolog dan psikiater, saya juga melihat beberapa chanel youtube yang menggambarkan hal terkait diri saya. Namun ada beberapa chanel yang membuat saya kecewa karena berbicara di depan umum tanpa mengetahui jelas bagaimana yang kami rasakan. Maka saya membuat sebuah surat terbuka juga.



Selanjutnya dapat diakses di instagram saya https://Instargam.com/judgingthenorm
Bukankah manusia itu memiliki peri kemanusiaan terhadap sesama manusia? Kami juga manusia yang ingin dimanusiakan. Tolong minimal jangan hujat kami. Bila berkenan memberikan simpati dan empati sebagaimana teman-teman lakukan pada penyintas penyakit fisik, kami akan sangat berterimakasih. Mungkin tingkat kematian akibat bunuh diri juga akan berkurang karena hilangnya tingkat individuasi masing-masing orang. Kami sama, kita berjuang bersama memajukan Bangsa dan Negara. Rangkul kami juga.
Ini cara saya untuk merawat kebersamaan, toleransi, dan keberagaman. Bagaimana cara kamu? Kabarkan/sebarkan pesan baik untuk MERAWAT kebersamaan, toleransi, dan keberagaman kamu dengan mengikuti lomba “Indonesia Baik” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini https://indonesiabaik.kbr.id/yuk-ikut-lomba-konten-baik-tentang-keberagaman/
Comments
Post a Comment